Selasa, 17 Januari 2012

Memandang ujung hidung sendiri


Memandang ujung hidung sendiri
 

untuk apa kita mncari ilmu agama?
hanya utuk ikut2an...?
bisa kita amalkan saat kau telah mengenal hidup ini yg penuh dengan krikil tajam?
untuk siapa kau menjalin hubungan?
hanya untuk lebih di pandang terhormat...?
bisa kita pertanggung jawab kan ketika menikah nanti...?

banyak hal yang telah kau lewati selama kau menghirup udara yang masih gratis ini, kau tidak pernah mengenal kehidupan yang benar benar kehidupan...?
disekeliling mu,
hanya hidup manusia-manusia yang tau sebatas matanya memandang, tak pernah coba untuk melebihi pandangannya yang lebih jauh lagi
menilik getir nya kehidupan.

banyak orang yang sebaik lahir merasakan sejuknya mesin pendingin ruangan dan empuknya tilam mereka, akan tetapi lebih banyak orng yang sebaik ia lahir menahan dinginnya udara malam tanpa seleimut tebal, 
seadannya dan selayaknya manusia hidup di bawah normal
akan tetapi mereka yang akan lebih nmenghargai orang lain ketimbang manusia-manusia yang menyembunyikan dalam-dalam normalitas kemanusiaanya di sepsiteng mereka

disini apakah kita sudah merasakan dan melaliu proses yang cukup panjang dalam memaknai dan menghargai hasil karya baik tertulis, lisan ato harkat dan martabat orang lain utuk di junjung diatas kepala kita..?

jangan kau berbicara tentang agama mu...
jangan kau berbicara tentang kedudukan mu...
jangan kau pampaang kan kekayaan mu...
jangan kau angkat dagu mu...

jika dalam satu menit saja dia memberhentikan nafas mu akankah kau bisa melakukan itu semua?
jika waktu dan umur mu telah di tandai dengan tanda titik akan apa yang akan kau perbuat?
jika semua telah berlalu bagai kiamat kecil yang menimpa dan semua telah tiada?

bisa kah kau kembalikan semuannya seperti semula
jangan kau memendang dengan sebelah mata
sebab dia akan terus berusaha utuk membuka mata kalian lebar-lebar utuk melihat realitas sebenar2nya yang terjadi di luar pemikiran kalian yang picik dan sempit.

saat ini roda itu mulai berputar dan akan terus memutar mata kalian hingga pupil bertemu memandang ujung hidung kalian masing2....
bukan utuk menunjukan 
kekuasaan
kesombongan
keangkuhan
ketenaran
hanya untuk sebuah kasih sayang dari darah daging yang sengaja di pisah kan oleh manusia2 yang tidak berotak dan tak tau dengan agama yang dia anut dengan pemikiran yang melebihi dari binatang buas, sungguh kasihan mereka semoga cepat untuk menyadarkan diri masing2...

Rabu, 11 Januari 2012

berniat nya?

tak mampu mengungkapkan kata seindah nyanyian india
tak bisa seromantis aktor india
tak sanggup menari segemulai india
tak bisa setegap india
tak bisa secanggih india
bukan mengkritik
bukan pula mencela
juga tidak untuk di cela
karena negara ku bukan negara india

bukan negara iptek
bukan negara yang ingin maju
tidak pula negara yang memajukan anak bangsanya
terpuruk dan terus lah terpuruk
jangan libatkan kami yang terus merubah diri kearah lebih maju
setidaknya...
untuk saat ini, biarkan kami
belajar bernyanyi seindah nyanyian negeri ini
biarkan kami meromantiskan diri kami seperti cerita negeri ini
biarkan kami menari meliukkan tubuh ini
kekarkan raga kami sekekar bangsa ini
biarkan kami membuat bangsa ini
secanggih JIN yang di sebut di dalam KITAB NYA

kaen lap

kaen lap
bahasa yang kasar bagi mu?
terkadang pula ia menjadi suatu bersih
kebanyakkan ia menjadi sesuatu yang kotor bagi yang bersih
saat ini sehelai kain..
tak cukup untuk membersihkan meja sehabis jamuan para kaum kelaparan
penuh satu meja akan hidangan yang membuat sbibir merot dan kepala memberat
dan kuping memekak
lemak dan kuah yang berserakan badan dan biri piring
menjadikan ia sulit untuk di bersihkan
sembari melihat televisi terlintas lah sebuah iklan media tentang si pembersih...
teringat dan beranjak memakai nya.
mengapa rumah itu masih banyak yang kotor
kembali lagi
sementara kaen lap itu tak sanggup
menuntaskan beberapa pekerjaan yang melebihi ukuran nya
jangan di paksa sebab ia akan membuat meja beraroma kari kambing
sekali lagi jangan pergunakan ia
ia sudah tidak aman bagi nya
wabah itu akan terus menjalar
lemparkan ia ke arah ku....!!!
kemudian ia akan menutup hidung, mata serta muka dengan
berlendir lah wajah yang halus dan lembut
tanpa bisa membersihkan karena ia tak sanggup lagi.




Jumat, 06 Januari 2012

Jum'at ini Jum'at Pertama

Jum'at ini
Jum'at Pertama

Beban terasa seperti diatas 50kg di ujung lengan
Menyambar kepada pikiran di bebani dengan berat permasalahn yang tak terhitung berdasarkan bilangan dan nominal
Ingin rasanya membuat jari ini menari bak penari balet
Kalaulah di pandang dari atas penari itu bagai melukis dan membuat karya indah di atas lantai dari ujung kaki nya yang membuat jejak  keindahan.
Di hari jumat saat khatib naik kemimbar tulisan ini ku buat
Salah kah aku sedikit mendengar kutbah nya dan aku barengi dengan menulis yang ntah apa isi nya aku pm tak paham
Selintas terdengar di telinga terhadap orang-orang berdoa dengan menyebutkan Firman-Firman NYA
Sang khatib banyak menyampaikan
Diantaranya tentang Ajal manusia tidak tau kapan dan dimana akan di jemput
Tentang harta yg harus di bersihkan dan bersedekah lah.
Terkadang tanpa di sengaja kita merasa semua perkataan itu sangat lah paham. 

Mutlak kita paham.
Pada dasarnya hanya kulit luar dari kulit yg paling luar lah kita paham tentang firman-firmanNYA.
Dari depan hingga keseluruh penjuru 

pandangan itu ku lempar dan memperhatikan 
apa yang sedang merka perbuat di saat khatib berceramah
luarbiasa ternyata

kepala mereka tertunduk sambil bersilah . 
Sungguh nikmat ceramah ini hingga mereka merasa tentram dalam duduk nya yang terlelap.

Mengarah


Mengarah 

Jangan dipakai kata terkadang...
pada sebaris kalimat kita lupa dengan Tuhan
Kata mungkin...
Segera hilangkan dari pikiran yang sempit terhadap keberadaan manusia itu dengan Tuhannya
Jangan pula kau bertanya sebuah penyimpangan yg beranggap pada pembenaran
Tentang keberadaan Tuhan di sisi ku
Berat hati bukan berat badan 
Malas untuk Tinggalakan yg merusak pikiran dan raga terhadap sesuatu yang indah dan mengasikan bersifat semu
Jumlah detik yang terus berputar dari segumpal darah di rahim hingga membuat segumpalan darah di rahim
Beribu, Berjuta, Bermilyar, Trilyunan atau ntah apa namanya bilangan tersebut tak bisa di urutkan dari nol hingga sembilan
Hilangkan kata tanya yang berkutat menentukan dari titik mana jarum itu berjalan
di titik mana pula akhir dari perjalanan detik itu.
Jangan Pusing kepala mu jika ku buka lembaran itu lebih jauh dan menyelesap menuju titik bumi
Sebab penjabaran itu belum bisa terjabar kan secara menrinci bagi diri ini
kegelisahan itu menjadi mozaik yg menyusun di kepala ini
Keluar dari nya rasa berat
Menghilang darinya rasa tak mungkin
Menghadapi dengan kaki yang tak beralas sebuah keberanian mutlak untuk tetap berjalan pada jalur.
lunaskan di ujing sana
Belum berkhir kita berbincang pada akhir nafas ini 
jika di ujung sana keberadaan tempat yang di janjikan belum terlintas di alam bawah sadar.

Roda bersepatu


Roda bersepatu 

Menggelinding di jalur yang sempit
Membuat garis tidak vertikal
Menyelesap menungkik terus
Awas pasir yang berserakan di jalan berlubang
Bekas galian C, D, A, Z ntah apalah itu namanya yang terkendala dengan perizinan
Roda itu pun macet meyendat
Masuk pada jalur kiri yang berdebuh di terpa teriknya matahari yang menyengatkan sinar nya
Debu....? berdebu....???
 

Sepakan lalu roda sepatu itu berlumpur.
Sepekan yang lalu dari sepakan roda sepatu itu berkarat, karena air yang tergenang di jalan yan kini berdebu
Sangat mengagumkan...!!!
 

Jalan pun mendaki
Seperti dalam cerita karton anak, mendaki guning melewati lembah...
Tapi kali ini sepatu roda itu bergulir di perkotaan yang tak jauh beda seperti pegunungan
Tidak jauh beda....?
Yaa...
Tidak jauh beda.
 

Sepatu roda ini bukan sepatu roda di era sekarang
Tidak lah canggih tidak pula di beli dengan harga yg berlaku pada era sekarang

Zaman baholak punya
rodanya pun dua di depam dua di belakang



Tapi zaman telah ia lewwati hingga saat ini
kapan lagi terulang bermain di depan halaman rumah
kaan lagi tertawa riang di halaman taman pinggir trotoar
kapan lagi bisa berteriang memanggil mu hingga kau menoleh
takan pernah lagi itu terjadi
karena ini sudah zaman bukan yang dulu

Rabu, 04 Januari 2012

bermimpi itu indah.... ?


bermimpi itu indah.... ?


Erangan suara itu membangun kan mimpi dari tidur siangnya, tarikan tua gas yang memutar hingga 45 derajat mengeluarkan asap yang megebul dan suara yang memekakan telinga
Tersentaklah ia dari tidur nya, wooiii…. Siapa pula yang ngegas-ngegas kreta di siang bolong ne, dalam bahasa setempat sebutan kreta sebuah kendaraan roda dua.
Jam menunjukkan 12.45 waktu setempat, saat nya ia begegas untuk mandi. Tugas yang menumpuk membuatnya bergegas bertindak. Di lingkungan sekitar Anak-anak seumuranya sebenarnya hamper semuanya meliliki prasyarat untuk hidup mapan. Mereka punya karakter dan prilaku serta semangat yang besar untuk sebuah perubahan yang mereka impikan, dan berimbas lah pada nya.
Zaman sudah maju, fasilitas elektronik sudah berkembang pesat alat komunikasi yang saban hari tibul baru bagai jamur yang tumbuh di musim hujan telah dimiliki oleh beberapa teman dan kerabat nya akan tetapi semua itu tidak dapat ia cicipi semuanya
Ia seorang calon sarjana tekhnik sipil dengan aura yang bisa dibilang tak jauh dari alat-alat yang berbau elektronik untuk mengerjakan tugas-tugas nya, kekurangan fasilitsa ini tak menyurutkan niat nya untuk terus belajar dan berkembang,
ia tunjukan dengan pembuktian nilai akademisnya mencapai index prestasi 3.15 di semester 3 yang lalu, ada beberapa teman sekamarnya yang secara ekonomi mapan dan dapat makan 3 kail dalam satu hari lain hal dengan dia Ia, walaupun zaman sudah berubah total dan teknologi terus berkembang kadang untuk mengisi kampung tengah hanya dapat Ia lakukan 1 kali saja
anak dari seorang nelayan di daerah bekas konflik adalah anak ke lima dari tujuh bersaudara yang hidup di perantauan tanpa ada kiriman setiap bulannya berzihat mencari ilmu dan berupaya belajar mencari sebuah kehidupan yang belum pantas ia kecap seumuran nya untuk membiayai kehidupan nya sendiri sehari-hari
saya merasa ada juga sebuah keadilan dalam hidup ini jika di bandingakan dalam sebuah pekulakan bisnis yang dilakukan oleh para pengusaha, sebab semakin banyak uang yang kita punya maka semakin banyak pula putaran uang yang kita miliki jelas akan semakin memperkaya ekonomi kita dan memandang sebaliknya di satu sisi terkadang ada sebuah ketidakadilan yang mengintip dan menunjuk kearah nya
salah satu Etnis yang Ia lihat dalam beberapa kurun waktu terus berkembang dan dapat dibilang menguasai perekonomian di kota tempat Ia bernaung dan bergulat pada kehidupan yang berjuluk kota multi Etnis ini membuat ia membangun sebuah mimpi kedepan untuk merubah kehidupan kearah menjadi lebih baik dari sebelumnya
sulit untuk menilik lebih dekat dan berbaur dengan komunitas mereka agar bias mempelajari dan mencontoh bagaiman cara dan system yang mereka buat di dalam keluarga dan kehidupan sehari-hari nya
selintas Ia berfikir kepada metode emosial yang mengara kepada  pendidikan yang di bangun untuk sebuah penerapan mencapai sebuah cica-cita yang terus menerus dari buyut hingga sampai saat in masih berpola pada pola yang lama belum tepat, sering Ia dengar beberapa kalimat yang muncul dari bibir para pahlawan tanpa tanda jasa, “kalau sudah besar cita-cita mu ingin menjadi apa?” murid yang duduk di bangku sekolah dasar itu pun berceloteh tentera bu..!, polisi bu…!, dokter bu…!, pilot bu…!, presiden bu…!, ingin seperti bapak dan mamak bu…!, ingin menjadi guru bu…!
Jalan pun pupus di tengah jalan di sebabkan banyak factor X dan Y yang berseliweran di indra perasa anak adam itu, tidak ada nya penguatan tentang sebuah cita-cita yang di inginkan seiring bertambahnya usia.
Kata yang tak pernah Ia dengar merasuki pikran nya dan terus berpikir dan berpikir piker dan pikir….. dan yang lain pun sudah berjalan, berlari, sampai mendendari kendaraan baik air, udara hingga menembus antariksa….

si BOi dari sudut tuamang: ini baru satu BOi ...

si BOi dari sudut tuamang: ini baru satu BOi ...: ini baru satu BOi pagi yang tak begitu cerah di awal tahun BOi, tak pula dengan otak yang penu...

ini baru satu BOi

pagi yang tak begitu cerah di awal tahun BOi, tak pula dengan otak yang penuh dengan gumpalan-gumpalan ide dan kreatif yang segerah tumpah di atas kertas BOI baik secara maya dan nyata
ternyata BOi, si maya dan si nyata tdk jauh berbeda tapi, mungkin, terkadang bisa pula dia sama BOi

BOi si maya tidak bisa di sentuh tapi hanya bisa di lihat saja, jangan menganggap si maya itu teman yang tidak produktif
si maya lah yang saat ini lebeh produktif menghasilkan banyak karya yang membuat kita menjadi konsuntif yang berdosisi kergantungan kepadanya
bedanya dengan si nyata, dia lebih dapat di rasa yang di raba hingga keseluruh bagian
tapi si nyata ini bukan lah barang murahan yang ada di pikiran kamu BOi
salah besar dan merugi BOi jika kau berpikir seperti itu BOi
si nyata ni jika BOi-BOi ingin bertukar pikiran dengannya dan ingin mendapatkan lebih darinya bersiaplah BOi merogo Kantong dalam-dalam sebab biaya nya terkadang relatif tinggi, di sesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan BOi
si nyata ne tidak bisa di dapt kan di sembarang tempat BOi
ada tempat-tempat khusus yang tergantung kepada kepuasan bagi si konsumen

jadi BOi hari ini kita mulai dengan si Maya terlebih dahulu dan kita BOi mencoba berdampingan dengan Si nyata ne agar berimbang BOi dalam bahasa cina YING YANG BOi, dalam dunia yang lagi sibuk mengarah kepada go yang mungkin green BOI keseimbangan ekosistem yang tak berimbang BOi.

selamat Pagi semoga karya mu tumpah Kemana-kemana BOi
salama si BOi dari suduTuamang

pengeras suara


Awal Tahun dengan Pengeras Suara

Pagi itu sebuah kejadian tragis menimpa sebuah lembaga pendidikan
Bukan masalah nilai, atau sebuah akreditasi lembaga pendidikan yang menghantui
Awal tahun yang menjadi petaka
Didepan ratusan pekerja pencetak sarjana
Ptermasuk para pegaiwai dari tingakt bawah dan atas
Sibuk bukan kepalang untuk menghadirkan satu unit sound system
Telpon pun terus berdering di saku ku
20 panggilan tak terjawab di pagi itu
Dan beberapa sms masuk menanyakan keberdadaan sound system
Aku heran kenapa permasalahan sound system itu melibat kan ku
Lalangka penuh Tanya pun belum terungkap setibanya di depan pagar
Tak seperti bulan kemarin
Suasana yang hening menghapiri pikiran ini sabil ku letakkan ujung jempol ini di layar papan absen elektronik  yang mengarah kepada IPTEK abad sekarang
Dua security elok sambil menelan sesuap demi sesuap sarapan pagi lontong bekuah dan meneguk the manis hangat
Wajah mereka pun datar melihat ku paru menyatakan kehadiran di pukul 08.00 WIB
“Sepertinya hari ini sepi kali bang? Kemana semua orang? Aku pun bertanya
“masih pada sarapan di aula baru seiap apel pagi?” jawab mereka
Kebiasaan yang ntah dari mana setelah apel pagi mereka sarapan bersama
Apel..? dalam hati ku bertanya-tanya
Sambil berjalan menuju aula terus ku bertanya apel… apel…apel pagi….
Kacau aahh… berarti mereka menelpon dan mengSMS aku krn apel dan karena  sebuah hal yang kecil itu?
Hingga ku berada si antara pintu masuk aula dan halaman samping gedung tersebut
Bertemulah aku dengan ajudan no 1 di lembaga tersebut
Tanpa tanyak dia menyambar ku dengan kata yang sungguh mengenakkan hati
Gila kau …!!! Gara – gara kau habis semua kepala Biro kena maki dengan wakil 3!!!
Elok lah ku menjawab kenapa rupanya bang…?
Kenapa pula kau bilang…? Nada yang agak tinggi ku dengar
Kau jumapi lah sana kepala biro!! Yakni bang naga dengan julukan dragon
Dia adalah seorang yang dianggap menakutkan bagi kebanyakan orang bukan kerana julukan namanya akan tetapi posisi dan jabatan nya yang begitu strategis yang bias menempatkan pegawai kemana dia mau
Bagi ku ini sebuah permasalahan yang tak terlalu ku aku takuti karena pada saat itu diri ku tak merasa bersalah yang sebegitu besar tapi menimbulkan tanda Tanya yang besar mengarah kepada panggilan telepon tidak terjawab tadi?
Kenapa pak wakil 3 yang termasuk atasan ku ymeneleopon ku hingga 3 kali, dan bang dragon menelepon ku hingga bepuluh kali serta atasan ku yang setinggkat lebih tinggi dari ku dan setinggkat lebih rendah dari pak wakil 3 juga ikut – ikutan menelepon ku…?
Ku buka pintu aula yang belakang. Dan tibah lah aku dengan suasana seperti pesta kulihat mereka sedang sarapan membentuk kelompok-kelompok kecil
Kehadiran ku seperti biasa tak terlalu penting sehinga tak ada sambutan yang begitu syahdu yang menghadapi para penjilat jabatan yang di hadapi oleh pimpinan tertinggi lembaga pendidikan itu
Maklum lah namanya juga orang mau tenar dan terpandang mukin dengan kedekatan dan tegursapa serta cipika cepiki aliasias cium pipi kiri cium pipi kanan yang belakangan menjadi sebuah ritual baru di Negara ku yang banyak orang bilang di cintai ini hal seperti tiu mulai tumbuh mebuat diri nya naik satu level  diatas permukaan sedikit lagi melayang dan terbang di bandingkan orang yang cuek biasa dan tak suka beerbasa basi  yang di anggap terlalu prontal dengan tindakan itu.
Akan tetapi mereka lupa satu tidak melakukan kebisaan di luar dari kebiasaan mereka adalah hal yang lumrah toh?
lain dari yang lain dan bukan menganggap diri sendiri lebih hebat ato lebih rendah dalam hal strata para pegawai.
Terus ku berjalan melewati satu demi satu manusia-manusia yang sedang asik bercengkrama pagi hari dan sampailah ku pada orang yang ku maksud dengan

                                                                                                                                                                TO BE….